naskah Drama Realis

PAKAIAN DAN KEPALSUAN
Saduran bebas ACHDIAT K. MIHARDJA
Dari cerita sandiwara Rusia THE MAN WITH THE GREEN NECKTIE
Karya AVERCHENKO
Para pelaku : -SAMSU, pedagang
-MAS ABU,pegawai negeri
-SUMANTRI, pemimpin politik
-RATNA, istri Sumantri
-HAMID, penganggur dan bekas pejuang
-RUSMAN, penganggur dan bekas pejuang
-PELAYAN dan yang lain-lain
Tempat berlaku : Suatu pondok dalam sebuah restoran kecil.
Waktu : Kira-kira pukul 22.00


DI DALAM RESTORAN SUDAH SEPI. HANYA RUSMAN DAN HAMID YANG MASIH DUDUK BERHADAPAN MENGHADAPI SEBUAH MEJA KECIL. HAMID MINUM KOPI DAN RUSMAN BEER.
MEREKA MASIH MUDA, +25 TH. BADAN HAMID BESAR, TEGAP SEPERTI ATLIT. RUSMAN AGAK KURUS, TAPI KELIHATAN SEHAT DAN SEGAR. PAKAIAN MEREKA KURANG TERURUS, TERDIRI DARI KEMEJA DAN PANTALON YANG SUDAH KUMAL.
HAMID : Yah, kalau kita terlalu mengikat diri kepada segala apa yang pernah kita cita-citakan dulu dan yang kini ternyata meleset semata-mata, maka memanglah kita harus kecewa belaka. Apalgi kalau kita melihat keadaan dikalangan politik kita dewasa ini dan bagaimana kotornya cara-cara pemimpin kita berbuat pengaruh dan kekuasaan, maka bagi kita sebagai bekas pejuang yang kini masih menganggur….
RUSMAN : Tapi politik memang kotor.
HAMID : Itu sama sekali tidak benar. Politik tidak kotor. Malah sebaliknya politik adalah satu hal yang murni. Sloganmu itu kini terlalu mudah diucapkan orang, seolah suatu kebenaran yang mutlak, padahal…..
RUSMAN TERTAWA.
HAMID : Dengarkan dulu!.......
RUSMAN : (TERTAWA). Bagaimana kau bisa berkata begitu, Mid. Itu kan omong kosong. Tidakkah kau perhatikan, bagaimanapartai yang satu atau pemimpin yang satu membusukkan dan menentang partai atau pemimpin yang lain, agar partai atau pemimpin yang ditentangnya itu jatuh untuk kemenangan partainya atau dirinya sendiri? Untuk itu mereka menghasut, mendusta, menipu, menyogok, mengancam, menculik dan kalau perlu malah membunuh. Tidakkah berbuat begitu itu busuk semata-mata. Katakanlah politik itu tidak busuk.
HAMID : Memang, tapi itu sama sekali tidak berarti, bahwa politik itu kotor. Sama sekali tidak. Itu hanya berarti, bahwa partai-partai itu sendiri , atau lebih tepat orang-orangnya itu sendiri yang busuk, yang tidak sanggup berbuat apa-apa, kalau tidak dengan car-cara yang busuk dan jahat. Jadi jelas, bahwa bukanlah politik yang kotor dan busuk itu, melainkan orang-orangnya itu sendiri.
RUSMAN : (PADA PELAYAN).
Hai bung, coba kasih beer lagi. Botol kecil saja, ya. Dan ini yang kosong angkat saja.
HAMID : Dengar, Rus, politik dan pemimpin politik adalah dua hal yang seperti meja dan kursi, sama sekali tidak sama. Atau lebih tepat lagi, tak ubahnya dengan agama dan penganutnya atau pemimpinnya. Dua pengertian yang berbeda-beda, karena kalau yang satu merupakan tugas, maka yang lainnya merupakan petugasnya. Kalau petugasnya jahat, itu tidak boleh diartikan bahwa tugasnya jahat pula. Betul tidak? Dan kalau kita ketahui, bahwa politik sebagai tugas ialah berarti bersama-sama mengatur susunan hidup, sehingga kepentingan dan kebutuhan hidup tiap orang bisa terpenuhi, lahir maupun batin, maka bisakah kita pertahankan kebenaran slogan tadi itu yang mengatakan, bahwa politik itu kotor?
RUSMAN : (MENEGUK BIRNYA). Bagiku pendapatmu itu terlalu bersifat teori, terlalu abstrak. Karena begitu kurang penting. Aku melihat kemyataan-kenyataan yang kongkrit.
HAMID : Ini sama sekali tidak abstrak. Ini malah sangat kongkrit. Jelas toh, bahwa tugas dan petugas itu adlah pengertian yang tidak sama. Dan selanjutnya, tidaklah jelas pula bagimu, bahwa sesuatu tugas yang baik dan murni baru bisa dilaksanakan, apabila petugasnya sendiri mempunyai syarat-syarat yang diperlukan untuk menjalankannya.
Disinilah pikirku, letaknya soal; pada petugas-petugas itu sendiri! Apakah ada pada para petugas itu syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menjalankan tugasnya yang begitu tinggi dan begitu murni seperti politik itu?
Tapi yang penting pula tentunya, apakah syarat-syaratnya itu? (MEROKOK) Saya rasa, semurni tugasnya, semurni itu pula tentu syarat-syaratnya itu. Dan adakah di duni ini yang lebih murni, lebih tinggi daripada nilai-nilai dan prinsip-prinsip hidup yang bertentangan dengan segala kepalsuan, segala dusta dan sebagainya itu?
(RUSMAN MENEGUK LAGI BIRNYA)
Sekarang apabila kita perhatikan para pemimpin politik kita itu, apakah ada pada mereka itu syarat-syarat yang berupa prinsip-prinsip dan nilai-nilai hidup yang tinggi seperti yang kumaksudkan itu?
Saya rasa, sebelum orang lain, seharusnya mereka sendiri yang mengetahuinya. Mereka sendiri yang harus pandai mengukur dirinya sendiri. Apabila ternyata harus berani mencopot dirinya sendiri. Apabila ternyata harus berani mencopot dirinya sendiri dan kedudukannya sebagai pemimpin.
RUSMAN : (TERTAWA TIBA-TIBA)
Kau ini belum juga berobah, Mid. Masih tetap seorang optimis.
HAMID : Bagaimana?
RUSMAN : Ya, bagaimana kau bisa mengharapkan, bahwa mereka atas kemauan mereka sendiri akan sudi mengundurkan diri dari kedudukannya. Ha, ha, untuk berbuat begitu, dibutuhkan jiwa yang besar (TERTAWA DENGAN KERASNYA).
Lihat bung, saya rasa, untuk dewasa ini kita akan terlalu jauh masuk kedarah mimpi, kalau kita ngomong-ngomong tentang jiwa besar, tentang prinsip-prinsip hidup yang tinggi atau moral yang murni, dan sebagainya.
Kata-kata itu kini telah menjadi kata-kata asing, bukan saja bagi kaum politik, melainkan untuk umumnya orang-orang yang hidup pada masa sekarang.
Kata-kata itu sudah tidak dimengerti lagi, sebab orang jaman sekarang lebih mengerti kata-kata yang keluar dari mulut ini.
(MENGELUARKAN PISTOL DARI SAKU CELANANYA, MENGACUNG-ACUNGKANNYA)
HAMID : Lho, dari mana kau dapat?
Coba lihat. (RUSMAN MENYERAHKAN PISTOLNYA)
Ada pelurunya?
RUSMAN : Itulah sayangnya. Sebutirpun tidak ada. Aku mesti cari. Kau punya?

HAMID : (MELIHAT-LIHAT PISTOL ITU)
Darimana aku punya?
TERDENGAR DARI LUAR SUARA-SUARA ORANG HENDAK MASUK RESTORAN ITU. HAMID CEPAT-CEPAT MENYEMBUNYIKAN SENJATA ITU KEDALAM SAKU CELANANYA.
TAK LAMA KEMUDIAN MASUK SEORANG WANITA DIIKUTI TIGA ORANG LELAKI. BERPAKAIAN RAPIH, BERBAJU DAN BERDASI, SEDANG YANG PEREMPUAN MEMAKAI ROK ABU DENGAN KEMEJA SUTRA PUTIH DENGAN SEHELAI SAPU TANGAN MERAH HIJAU DI ATAS DADA SEBELAH KIRI.
MEREKA MASUK SAMBIL RIUH BERCAKAP-CAKAP DAN TERTAWA-TAWA. PELAYAN SEGERA MEMBURU DAN MEMPERSILAHKAN DUDUK. MEREKA DUDUK DI SUDUT KIRI AGAK KE TENGAH.
MEMESAN MINUMAN DAN MAKANAN RINGAN.
SUMANTRI : (MENYALAKAN ROKOK “CAMEL”.PADA MAS ABU)
Bagaimana cerita saudara itu selanjutnya?
MAS ABU : Ya, sesudah seluruh kampong pada lari ketakutan, maka… sungguh mati saudara, bukan sombong, yang berani tinggal hanya aku sendiri. Kemudian baru lima orang pemuda yang berani juga ikut dengan aku.
Mereka punya karabiyn masing-masing, sedang aku sendiri Cuma satu colt dan tiga buah granat tangan. Yang kuning itu, saudara-saudara tahu, yang seperti nanas kecil bentuknya. Nah dengan kelima pemuda itu, aku cegat musuh itu di atas sebuah lembah yang sempit.
Saudara tentu mengerti, betapa berdebar-debarnya hati kami, ketika menunggu musuh itu. Bukan karena takut. Sungguh mati saudara-saudara, bukan!
Karena perkataan takut itu sudah lama aku coret dari kamusku. Malah sebaliknya, bukan perasaan takut, melainkan ada semacam perasaan senang, seperti kalau kita sedang menunggu….
SAMSU : Seorang kekasih. (TERTAWA)
MAS ABU : Ya, begitulah kira-kira. Bukan sombong, tapi begitulah kira-kira. (TERTAWA)
Memang, kalau kita sudah sering bertempur, musuh itu seolah mempunyai daya penarik yang boleh dipersamakan dengan daya penarik seorang kekasih.
Kita cari mereka, sepeti orang rindu cari jantung hatinya. Sungguh mari saudara-saudara, bukan sombong tapi perasaan rindu semacam itu ada padaku ketika itu...
SUMANTRI : Cuma bedanya, kalau sudah bertemu, saudara tidak cium mereka dengan bibir, melainkan dengan granat, bukan?(TERTAWA)
YANG LAIN PUN IKUT TERTAWA, KECUALI PEREMPUAN ITU, O YAH NAMA PEREMPUAN ITU RATNA, SEDANGKAN RUSMAN DAN HAMID BERBISIK-BISIK.
SUMANTRI : Lantas bagaimana hasilnya pertempuran saudara itu?
MAS ABU : Hasilnya? Pasukan musuh itu mampus semuanya, dan senjata-senjatanya kami rampas semuanya... Ahm kalau aku terkenang lagi kepada pertempuran-pertempuran seperti itu, kadang-kadang aku ingin kembali ke jaman revolusi itu. Sungguh mati saudara-saudara, bukan sombong.
SAMSU : (SAMBIL MAKAN KROKET)
Ya, ya, aku bisa mengerti, sebab akupun begitu juga.
SUMANTRI : (SAMBIL MENGUDEK KOPI SUSUNYA)
Saudara dimana ketika itu?
SAMSU : Saya? Saya ketika itu berada di lereng Gunung Galunggung. Saya pun memimpin satu pasukan.
SUMANTRI : Kukira saudara, memegang bagian perlengkapan.
SAMSU : Memang. Tapi ketika ada clash, saya beranggapan., bahwa saya akan lebih berjasa untuk nusa dan bangsa, kalau ikut bertempur memimpin suatu pasukan daripada mencari ban mobil atau mesin tulis dan kertas karbon.
Dan pertempuran-pertempuran macam yang diceritakan oleh Mas Abu itu, di daerahku sendiri hampir tiap hari terjadi. Satu kali saya masih ingat ketika hari jumat, yaitu ketika orang-orang dari kampung kami baru pulang dari mesjid, tiba-tiba diserang oleh sebuah pesawat pemburu yang sambil melayang-layang sangat rendah memuntahkan peluru-peluru dari mitralyurnya, sehingga banyak sekali penduduk yang tidak berdosa mati konyol. Melihat keganasan musuh itu, maka aku tak tahan lagi. Kupasang mitralyurku, dan ketika pesawat itu rendah sekali terbangnya sambil menyirami tempatku dengan peluru, maka kubalas dengan semprotan dari mitralyurku yang semuanya kena sasaran, sehingga pesawat itu segera lari kearah utara sambil menggeleong-geleong miring kekiri miring ke kanan dn mengeluarkan asap dari ekornya. Terbakar ia, lalu jatuh entah dimana.
Coba saudara-saudara bayangkanlah betapa keadaan jiwaku, ketika aku menghadapi semprotan peluru yang mendesing-desing begitu deras sekitar kedua belah telingaku.
Takut? Sama sekali tidak. Seperti Mas Abu, akupun sudah mencoret perkataan takut itu dari kamusku.
SUMANTRI : Saya pikir, memang untuk orang-orang yang sudah biasa menghadapi bahaya maut, perkataan takut ini sudah tidak ada lagi, untuk saya pun perasaan begitu itu sudah hapus.
HAMID DAN RUSMAN BERBISIK-BISIK LAGI.
SUMANTRI : Semua pengalaman saudara-saudara itu sungguh seram. Tapi saya rasa lebih seram lagi apa yang pernah ku alami sendiri. Barangkali saudara-saudara belum mengetahui, bahwa di samping memimpin partai, aku selama memimpin revolusi itu bekerja sebagai seorang penyelidik.
Memang sebagai seorang politikus, kita harus pandai pula menjalankan pekerjaan penyelidik, karena sebagai politikus kita dengan sendirinya banyak musuh-musuh yang mau menjatuhkan kita karena politik memang sudah semata-mata berarti perebutan kekuasaan.
HAMID DAN RUSMAN BERBISIK-BISIK LAGI.
Kalau tidak awas-awas dan tidk hati-hati, kita mudah terjebak. Itulah maka seorang politikus harus pandai pula menyelidik. Tapi saudara-saudara tahu, apa syarat-syarat yang mutlak untuk menjadi seorang penyelidik?
Kesatu, otak kita harus tajam seperti pisau cukur.
Kedua, kita harus berani mati seperti orang gantung diri. Kalau kita bodoh dan penakut, jangan coba-coba kita mau menjadi penyelidik.
Kedua syarat itu berlaku juga sepenuhnya untuk kaum politik. Orang yang bodoh dan penakut tak usah ikut-ikut main politik.
HAMID DAN RUSMAN BERBISIK-BISIK LAGI.
Nah, pada suatu malam saudara-saudara, yaitu akibat pengkhianatan seorang kawan penyelidik yang tidak tahan uji ketika dia di tangkap dan disiksa oleh musuh, maka rumahku tiba-tiba digrebek dan aku tidak bisa meloloskan diri, lalu diangkut ke markas musuh.
SAMSU : (PADA RATNA)
Nyonya juga ikut tertangkap?
RATNA : (SEDIKIT TERTAWA)
O, ketika itu saya masih gadis. Belum kawin. Dengarpun belum pernah tentang adanya seorang pemimpin yang bernama Sumantri.
SUMANTRI : Ya, kami baru setahun ini kawin.
Di markas itulah mulai terbuka suatu neraka bagi diriku. Ah, saudara-saudara tidak akan bisa membayangkan, apa artinya neraka itu bagi diriku. Tahu saudara-saudara, bagaimana seramnya aku di siksa ketika itu?
Ihh! Kalau aku teringat lagi, aku masih menggigil. Bukan main ngerinya. Mula-mula aku dipukuli dengan rotan.
(MENGELUH)
Ah tidak seberapa bung lumayan saja. (CYNIS)
Hanya sekedar dielus-elus dengan rotan sebesar ibu jari, sehingga akibatnya pun tidak seberapa pula, Cuma punggungku bergaris-garis seperti punggung kuda zebra. Tapi biarpun begitu bung, alhamdulillah, aku tetap bungkam, tidak mau membuka rahasia tentara kita.
Bikinlah aku mati! Teriakku kepada algojo-algojo itu, tapi aku tidak akan berkhianat terhadap Nusa dan Bangsa.
(HAMID DAN RUSMAN BERBISIK-BISIK LAGI.)
Kemudian bung, aku diseret kedalam sebuah kamar yang para-paranya terbuka. Aku mesti menjalani siksaan macam lain. Inipun tidak seberapa bung, (CYNIS LAGI) lumayan saja, Cuma sekedar harus merobah kebiasaanku sehari-hari, kalau biasanya aku tunduk kepada kehendak Tuhan dengan menempatkan kakiku dibawah dan kepalaku diatas, kini aku harus menurut kehendak algojo-algojo itu, karena kedua belah kakiku di gantung pada sebuah balok di para-para, sehingga aku harus melihat dunia yang terbalik. Tapi biarpun begitu, aku masih bungkam pula. Tidak mau aku berkhianat. Biar mati deh! Algojo-algojo itu mulai putus asa. Jelas bagi mereka, bahwa mereka sedang menghadapi seorang patriot yang tidak takut mati.
(HAMID DAN RUSMAN BERBISIK-BISIK LAGI.)
Esoknya tangan dan kakiku diikat oleh mereka, lalu badanku digeletakkan diatas tanah seperti orang kulit putih yang hendak dibakar oleh orang-orang Indian. Aku berbaring telentang, dan tidak bisa bergerak apa-apa, kecuali mengedip-ngedip dengan mata. Mulut dan hidungku kemudian ditutupi dengan sehelai sapu tangan yang dicelupkan kedalam air. Siksaan inipun tidak seberapa bung, masih lumayan juga, karena Cuma nafasku menjadi mengap-mengap. Tiap kali aku hampir mati tercekit, maka sapu tangan yang basah itu diangkat sedikit ke atas, tapi segera ditutupkan lagi ke bawah, apabila aku sudah menarik nafas satu helaan.
Yah, lumayan juga, tapi aku masih tetap kuat iman. Aku masih bungkam seperti cacing mati.
Dan akhirnya bung, algojo-algojo itu rupanya sudah betul-betul putus asa. Mereka kemudian menggunakan siksaan yang terakhir. Bukan main enaknya bung. Badanku direjam-rejam dengan aliran listrik. Aku sudah tidak mengharapkan bakal hidup lagi. Tapi alhamdulillah, kini aku masih seperti seekor kambing di kebun sayur.
Dan lebih dari seekor kambing yang diberi sekeranjang kubis muda, aku merasa puas, karena sudah bisa mengatasi segala siksaan dengan tidak berkhianat.
HAMID DAN RUSMAN BERBISIK-BISIK LAGI.
RATNA : (TERTAWA CYNIS)
Kalau begitu, aku ini boleh merasa aman, karena dengan tidak terduga-duga aku ternyata telah berada ditengah-tengah tiga orang pahlawan yang benar-benar.
SAMSU : Iya, karena begitu saudara-saudara, saya rasa memang sudah sepatutnya dan seadilnya, dan memang sudah ditakdirkan Tuhan kalau kita sekarang masing-masing mempunyai kedudukan yang lumayan di masyarakat ini.
(KEPADA MAS ABU)
Saudara misalnya, bekerja sebagai pegawai tinggi, saudara Sumantri sebagai anggota parlemen dan saya sendiri seorang Importuur, itu semua saya rasa memang sewajarnya, kalau kita mengingat jasa-jasa kita di jaman revolusi itu. Betul tidak?
HAMID DAN RUSMAN BERBISIK-BISIK LAGI.
Maka sekarang saudara-saudara, marilah kita minum untuk keselamatan kita bersama-sama sebagai patriot-patriot yang sudah berjasa untuk Nusa dan Bangsa. Prosit!
DENGAN WAJAH RIANG, KETIGA LELAKI ITU BERDIRI MENGACUNGKAN GELAS MASING-MASING, KECUALI RATNA MASIH DUDUK DENGAN TENANG. HAMID DAN RUSMAN BERBISIK-BISIK SEBENTAR, KEMUDIAN DENGAN LANGKAH YANG PASTI BERDIRI MENUJU ORANG-ORANG ITU.
RUSMAN MENARIK PELAYAN MASUK KE BELAKANG.
HAMID : Kulihat saudara-saudara sekalian sudah pada jemu hidup. Buktinya saudara-saudara menipu diri sendiri untuk menyelimuti kejemuan itu dengan ngomong-ngomong, minum-minum, makan-makan. Ketawa-ketawa.
Ketahuilah saudara-saudara, menipu, mendustai, apalagi menipu dan mendustai diri sendiri adalah sangat menjemukan. Karena begitu kejemuan hidup dan kebiasaan saudara-saudara untuk menipu diri sendiri itu merupakan saling pengaruh yang tak putus-putusnya, sehingga kejemuan hidup saudara-saudara itu makin menjadi-jadi dan penipuan diri sendiri makin merajalela.
SAMSU : Apa maksud saudara dengan semua itu? Saudara menuduh kami bahwa kami telah menipu diri sendiri? Sedangkan saudara tidak mengenal kami sama sekali.bertemu pun baru sekali ini. Saya misalnya yang berpikiran sehat....
HAMID : Buktinya saudara? Tak seorang pun dari saudara-saudara itu yang betul-betul memperlihatkan pribadi saudara yang sebenarnya. (PADA SAMSU) Saudara sendiri misalnya, siapa saudara itu sebenarnya?
SAMSU : Saya? Siapa saya? Saudara mau tahu, siapa saya? Saya adalah wakil dari perusahaan NV Melati, yang mengimpor barang-barang tekstil dan pecah belah, juga makanan dalam kaleng. Nah itulah saya. Kalau saudara catat alamat kantor kami; Jalan Diponegoro 7 telepon Gambir 1722.
HAMID : (TERTAWA ENAK)
Ha, ha, ha, aku sudah menduga, bahwa saudara akan memberi jawaban yang lucu seperti itu.
Ha, ha, ha, nah lihatlah, kenapa saudara mesti berbohong? Kenapa saudara mesti berpura-pura dan menggunakan kedok bahwa saudara itu seorang wakil dari sebuah NV importuur. Itu berarti membohongi diri sendiri. Dan itulah yang membikin saudara jemu hidup.
Kenapa saudara tidak mau berterus terang saja, bahwa saudara itu seorang kiayi.
SAMSU : Apa? Saya kiayi?
HAMID : Ya, saudara kiayi. Jangan saudara mau coba-coba membohongi aku. Aku tahu bahwa saudara itu orang yang paling pandai dan paling cerdik. Aku pernah dengar tentang diri saudara.
SAMSU : Maaf saudara, saya rasa, lelucon saudara itu boleh saudara dagangkan di Pasar Senen, tapi disini terang tidak akan laku.
HAMID : (MELETAKKAN TANGANNYA DIPUNDAK BAHU SAMSU) Kiayi salim, janganlah kiayi berani membohongi aku.
SAMSU : Kiayi Salim? Namaku Samsu. Samsu, tak kurang tak lebih.
HAMID : Jangan bohong Kiayi. Tak ada gunanya Kiayi membohongi orang lain. Lagipula berbohong dilarang oleh tiap agama. Tentu hal itu Kiayi juga ajarkan kepada murid-murid Kiayi, bukan? Karena begitu, sekarang lebih baik Kiayi menceritakan saja dengan berterus terang kepada kami, bagaimanakah cara-cara kiayi ampai bisa begitu berhasil mengikat hati para wanita yang menganut ajaran kiayi?
SAMSU : (MELEPASKAN TANGAN DIPUNDAKNYA DENGAN SANGAT JENGKEL) Jangan pegang aku! Apa ini?
HAMID : (MENUTUP MULUT SAMSU DENGAN TANGANNYA)
Hai kiayi, jangan berteriak-teriak begitu. Tidak kiayi lihat? Depan kiayi kan seorang wanita. Apakah pantas kiayi berteriak begitu keras?
SETELAH BERKATA BEGITU HAMID MENARIK KEMBALI TANGANNYA, DAN PADA SAAT ITU PULA MENGELUARKAN PISTOL DARI SAKU CELANANYA. KEMUDIAN DITODONGKAN PADA DADA SAMSU SERTA DADA-DADA YANG LAINNYA.
Saudara-saudara sekalian, saudara-saudara harus tahu pula bahwa aku ini sangat benci kepada orang-orang yang suka kepada kepalsuan-kepalsuan menipu diri sendiri dan berdusta.
MELIHAT PISTOL DITODONGKAN ORANG-ORANG ITU MENJADI GUGUP, SUMANTRI DAN MAS ABU BERGERAK HENDAK LARI, TAPI DENGAN ISYARAT DARI UJUNG PISTOL MEREKA DIDUDUKKAN KEMBALI.
Kawan-kawan, tenanglah. Jangan gugup dan jangn bergerak, karena bergerak sekarang membikin saudara-saudara tidak akan bisa bergerak lagi untuk selama-lamanya.
Dan saudara-saudara tahu, dalam hidup ini, gerak itu sangat penting. Sekali saudara-saudara, ketahuilah, bahwa aku ini seorang laki-laki yang baik hati. Aku hanya benci kepada kepalsuan. Karena begitu, kepada orang inipun aku tidak lain hanya mau menuntut, supaya ia mau mengemukakan pribadinya yang sebenarnya dan bukan yang palsu. Jadi ia tidak boleh bohong.
SAMSU : Sesungguhnya, saya tidak bohong. Saya adalah seorang wakil dari NV Melati, suatu perusahaan impor. Kalau saudara tidak percaya, tanyalah Mas Abu itu.beliaulah yang selalu mengurus lisensi-lisensi bagi perusahaan kami. Atau lebih baik datanglah sendiri ke kantor kami; Jalan Diponegoro 7, telepon 1722 Gambir.
HAMID : Kamu bohong, kiayi Salim. Kamu bohong. Kamu adalah seorang kiayi. Aku tahu.
SUMANTRI : (SETENGAH BERBISIK PADA SAMSU)
Ssstt bung! Bilang saja bahwa saudara betul kiayi. Tak usah segan-segan. Orang ini agaknya sedikit begini.
(MEMBERI ISYARAT DENGAN TELUNJUKNYA MIRING DIATAS KENING)
SAMSU : (BERBISIK)
Habis saya bukan kiayi. Saya pedagang. Wakil dari NV Melati, Importuur. Saudara tahu sendiri. Dia bisa saksikan sendiri. Kantorku di jalan diponegaro 7, telepon 1722.
SUMANTRI : Dia agak malu saudara, untuk mengakui terus terang bahwa ia seorang kiayi. Padahal sayapun tahu pula bahwa orang ini memang seperti saudara katakan, seorang kiayi, bukan?
(PADA MAS ABU) Dan apa kata saudara? Tidakkah saudara pun sependapat dengan saya?
MAS ABU : O, Tentu, tentu. Sungguh saudara, kalau kutilik benar-benar, memang jelas sekali bahwa saudara ini mempunyai wajah seorang kiayi. Tapi kenapa saudara ributkan benar hal itu. Ia kiayi, habis perkara.
HAMID : Aku bukan meributkan hal itu. Aku hanya ingin mendengar dari pengakuannya sendiri, dari mulutnya.
(MENODONGKAN PISTOLNYA KE MUKA SAMSU)
SAMSU : Baiklah kuakui. Aku ini seorang kiayi.
(BERDIRI) Dan sekarang ijinkanlah saya mau kencing dulu ke kakus.
HAMID : O, Tidak boleh. Tidak boleh. Tahan saja dulu.
(PADA YANG LAINNYA) Nah saudara, tidakkah benar apa yang kukatakan tadi? Dia kiayi, bukan?
Dan sekarang, kiayi Salim, kuulangi lagi pertanyaanku tadi; Bagaimanakah kiayi sampai berhasil mengambil hati para wanita, sehingga mereka lantas menganut ajaran kiayi. Ceritakanlah. Singkat saja. (MERAPATKAN MULUT PISTOLNYA TEPAT KEPELIPIS SAMSU)
SAMSU : Baiklah, baiklah. Akan kuceritakan... tapi, janganlah pistolmu ini ditekankan begitu kepada kepalaku. Nanti meletus. Aku takan bisa bercerita lagi nanti.
HAMID : (MENARIK PISTOLNYA)
Ayo mulailah sekarang dengan ceritamu. Bagaimana cara-caramu untuk memikat wanita-wanita itu supaya mereka menganut ajaranmu.
SAMSU : Itu gampang sekali. Kukawini wanita-wanita itu, lalu mereka dengan sendirinya menganut ajaranku.
HAMID : Uch! Tolol amat ceritamu itu, kiayi. Suatu cerita pendek yang terdiri dari dua kalimat, tapi uch! Alangkah membosankannya. Heran kiayi sendiri tidak mengucapkan; ‘audzubillah atau astagfiru’llah.
(PADA MAS ABU) Bukan begitu saudara? Tidakkah bagi saudara pun sangat membosankan cerita kiayi Salim itu?
MAS ABU : Ya, ya, sungguh membosankan. Menyebalkan.
HAMID : Ya, terutama bagi saudara, tentu lebih membosankan, daripada untuk orang-orang lain, karena saudara sebagai seorang rentenir tentu lebih tahu daripada orang-orang lain, apa harganya waktu bagi manusia dalam hidupnya.
MAS ABU : Ah, maaf saja saudara, saya tidak mau disebut rentenir. Itu suatu hinaan yang kelewat besar bagi diri saya sebagai seorang pegawai tinggi, karena merentenkan dilarang oleh negara....
HAMID : Juga oleh agama, bukan begitu kiayi Salim?
SAMSU HANYA MENGANGGUK PASIF.
MAS ABU : Ya, karena begitu, maka saya merasa kelewat terhina oleh saudara. Dan karena begitu, saya akan dakwakan saudara pada polisi. Sungguh mati, bukan sombong, saya merasa terhina.
HAMID : Seorang rentenir tahu benar, berapa harganya satu tahun, satu bulan, satu minggu, satu hari, satu jam, satu menit dan satu detik untuk kantongnya sendiri.
Bukan begitu saudara? (MAS ABU MENGANGGUK PASIF, KARENA TODONGAN PISTOL ITU)
Karena begitu, saudara tentu paling merasa dirugikan oleh kiayi itu, karena waktu saudara diboroskan untuk mendengarkan cerita yang membosankan itu.
Sekarang, cobalah saudara ceritakan kepada kami, bagaimana caranya untuk mendapat uang banyak dengan tidak usah bekerja apa-apa.
MAS ABU : Saya tidak tahu, karena sungguh mati saya ini bukan rentenir. Saya pegawai negeri, bukan sombong, saya ini seorang pegawai tinggi dari kementrian....
HAMID : E e e, Saudara tetap tidak mau mengaku!
(PADA SAMSU) Hai kiayi Salim, ini orang mau mengelabuhi dirinya sendiri dan diri kita semua. Dia seorang rentenir, tapi mengakukan dirinya pegawai negeri.
Ha, ha, ha rupanya kawan kita ini takut dituduh orang, bahwa ia kerjanya Cuma menyuruh orang lain bekerja keras, sedangkan dia sendiri hanya enak-enak saja bermalas-malas dan hanya tahu menghitung-hitung hari dan bulan untuk menagih uangnya.
Tidakkah kiayi lihat, bahwa orang ini adalah seorang rentenir?
SAMSU : Setahu saya, beliau itu memang seorang pegawai tinggi. Dan saya yakin benar, karena urusan lisensi dari perusahaan kami NV Melati yang alamatnya di Jalan Diponegoro 7, selalu diurus oleh beliau.
HAMID : (MENODONGKAN PISTOLNYA KEMATA SAMSU)
Tidakkah jelas bagi kiayi, bahwa orang ini seorang rentenir?
SUMANTRI : (BERBISIK) Bilang saja ya!
SAMSU : Ya, sekarang jelas, saya tidak keliru lagi. Memang sekarang jelas, bahwa ia adalah seorang rentenir.
HAMID : (KEPADA MAS ABU)
Nah, saudara dengar sendiri dari mulut kiayi itu. Saudara bukan pegawai negeri. Sedikitpun memang tak ada bukti-buktinya bahwa saudara seorang pegawai negeri.
Ha, ha, ha, corak dan gaya seorang pegawai negeri dan juga sifat-sifatnya ‘kan lain daripada seorang rentenir?
(PADA SAMSU)
Bukan begitu kiayi?
(SAMSU MENGANGGUK)
Nah, kiayi Salim pun sependapat dengan saya. Dan saudara jangan lupa, bahwa kata-kata dari seorang kiayi harus kita percayai. Kalau tidak, ia bukan lagi kiayi. Persis seperti terhadap kata-kata seorang pemimpin politik, bukan? Kita harus percaya. Kalau tidak, ia bukan pemimpin politik lagi.
(KEPADA SUMANTRI)
Betul tidak saudara? (SUMANTRI MENGANGGUK YAKIN) Nah saudara, sekarang kuulangi lagi permintaanku tadi itu. Ceritakanlah, bagaimana caranya saudara bisa mendapat uang dengan bermalas-malas. Singkat saja!
MAS ABU : (DENGAN GELISAH)
Aku tahu, bahwa orang-orang lain membutuhkan aku. Kugunakan kebutuhan orang-orang itu.
HAMID : Uch!! Sama tololnya cerita saudara dengan cerita kyai tadi. Panjangnya pun sama. Cuma dua kalimat, tapi membosankan, uch! bukan main ! Siapa yang tak jemu mendengarnya.
(PADA SUMANTRI)
Saya sungguh tidak mengerti, kenapa istri saudara yang begitu manis itu saudara biarkan saja dibikin jemu dengan dongeng-dongeng macam yang baru kita dengar dari mulut kedua orang itu. Padahal saudara sebagai seorang penjual obat yang suka melindungi orang-orang lain dari bahaya penyakit.
Penyakit tentu pertama-tama akan ingat kepada istri saudara sendiri. Supaya ia terlindungi dari suatu penyakit yang amat berbahaya seperti penyakit jemu itu.
Saudara toh betul penjual obat bukan?
(SUMANTRI HANYA MENGANGGUK DENGAN SENYUM LUNAK)
(BERSERU GEMBIRA)
Aha, saudara lebih mudah dari kawan-kawan saudara yang lain. Saudara tidak membantah dulu. Memang saudara takkan berani membantah karena sifat pekerjaan saudara tidak mengijinkan. Pekerjaan saudara ialah berhadapan dengan publik saudara. Publik yang saudara harus pikat hatinya supaya mau membeli obat-obatan saudara. Jadi membantah hanya akan diketawakan oleh publik saja. Dan diketawkan pblik itu tidak enak bukan? Malah minggu yang lalu ada seorang tetanggaku yang pada pagi buta terdapat sudah berayun-ayun pada sebatang pohon di kebunnya. Ia ternyata sudah memilih mati daripada hidup diketawakan publik.
Bagaimana sikap saudara? Apa yang lebih baik bagi saudara; mati atau diketawakan orang?
SUMANTRI : Sayapun lebih baik mati.
HAMID : Terang bagiku, bahwa kedudukan saudara sebagai seorang tukang obat itu sunggu ruwet. Mati saudara tentu tidak mau karena memang mati itu tidak sehat. Sedangkan diketawakan orangpun tentunya bagi saudara sangat berabe pula, karena diketawakan publik itu pada akhirnya akan mengakibatkan mati juga seperti tetanggaku itu.
Karena begitu saudara tentunya harus mencari jalan, supaya jangan mati dan jangan diketawakan pula.
Bukan begitu saudara?
SUMANTRI MENGANGGUK
Tapi ruwetnya bagi saudara ialah oleh karena publik itu mau diyakinkan bahwa obat-obatan saudara betul-betul mujarab. Dan ruwetnya lagi karena bagi publik itu tidak ada yang paling meyakinkan daripada bukti-bukti yang nyata. Ruwet bukan?
SUMANTRI MENGANGGUK LAGI.
Tapi biarpun begitu, saya tahu, bahwa soal itu tidak begitu ruwet bagi saudara, seperti misalnya untuk orang lain. Karena saudara mempunyai suatu cara yang istimewa untuk memikat hati publik dengan tidak usah membikin mereka yakin dengan bukti-bukti yang nyata itu. Betul tidak?
SUMANTRI MENGANGGUK LAGI.
Aku tahu bahwa cara saudara yang istimewa itu ialah dengan jalan menyanyi. Bukan begitu?
SUMANTRI MENGANGGUK LAGI
Ha, ha, sungguh mudah saudara ini, tidak ada yang perlu dibantah rupanya.
SAMSU BERGERAK HENDAK LARI. HAMID MENGARAHKAN PISTOLNYA.
Hai, kiayi, kenapa kiayi mau lari. Sabarlah dulu. Kita dengarkan dulu saudara tukang obat ini menyanyi sedikit untuk kita, supaya penyakit jemu hidup itu hilang dari saudara. Coba bung, silakan menyanyi sekarang.
SUMANTRI BIMBANG.
SUMANTRI : Saya tidak bisa menyanyi.
HAMID : Lihat saudara-saudara, ternyatalah kini bahwa saudara penjual obat ini mempunyai darah seni pula yang sungguh-sungguh murni. Buktinya, iatidak mau disebut pandai menyanyi, padahal kita tahu, bahwa ia seorang biduan yang ulung. Persis seperti tiap seniman besar yang selalu membantah kalau ia di sebut seniman besar. Seniman besar memang tidak mau menonjolkan dirinya sendiri. Persis seperti kawan kita ini.
SUMANTRI : Biar harus disumpah apa saja, atau sekalipun harus dijatuhi hukuman disiplin partai, namun saya tetap mengatakan, bahwa saya tidak bisa menyanyi.
HAMID : (MELANGKAH DEKAT SUMANTRI DENGAN PISTOLNYA)
Saudara mau menyanyi atau tidak?
SUMANTRI : (MELIRIK KE ARAH RATNA KEMUDIAN KE ARAH PISTOL. SUMBANG)
Bengawan solo
Riwayatmu ini
Sedari dulu...
Menjadi perhatian insani.
HAMID : (BERTEPUK GEMBIRA)
Bagus! Bagus! Sungguh meredu suara menyanyi. Bakat seni inilah yang membikin saudara selalu berpanen sukses dalam menjual obat kepada khalayak ramai.
(PADA SAMSU)
Tahu kiayi bahwa pengaruh seni itu bisa menghaluskan hati orang-orang yang biadab?
SAMSU : O, Tentu saja tahu.
HAMID : Bagus, bagus. Saya senang mendengarnya. Nah saudara-saudara sekalian. Saudara-saudara mendengarnya. Nah, saudara-saudara sekalian, saudara-saudara telah melihat sendiri bahwa saudara-saudara sekarang sudah kembali kepada pribadi saudara yang sebenarnya. Saya sungguh gembira. Memang dalam hidup ini tidak ada yang paling busuk daripada kepalsuan, ketidak jujuran, penipuan, dusta.
Ia menemani kita pada setiap langkah, turut meluncur dari bibir dengan kata-kata yang kita ucapkan, turut memancar dari wajah kita dengan senyum dan ketawa.
Pendek kata, ia melekat pada diri kita dan menyelimuti pribadi kita yang sebenarnya seperti pakaian menyelimuti yang paling indah di dunia ini, yakni badan manusia.
(PADA RATNA)
Oleh karena itu nyonya, maka dengan segala hormat, saya minta supaya nyonya sudi membuka pakaian nyonya.
(MENGARAHKAN PISTOL KEMUKA SUMANTRI)
RATNA : (BANGKIT) Saudara gila!
HAMID : O, tenanglah nyonya, tenanglah. Janganlah nyonya terlalu lekas marah. Lekas marah tidak baik, nyonya, karena orang yang lekas marah lekas tua.
Dan tua itu... ah, nyonya, tidak ada yang paling berat di dunia ini daripada tua, karena tua umur menuntut kematangan jiwa yang harus membedakan orang tua dari kanak-kanak. Suami nyonya tidak akan keberatan apa-apa.
RATNA : Saudara betul-betul gila. Aku mesti panggil polisi.
HAMID : O, jangan nyonya. Polisi tidak suka melihat orang telanjang. Nyonya belum dengar, bahwa kemarin di seluruh kota banyak gembel-gembel yang ditankapi?
(RATNA MELIRIK PADA SUMANTRI, MINTA DIBELA)
Nyonya lihat sendiri, suami nyonya tidak keberatan apa-apa. Dia diam. Dan seperti kata pepatah, orang yang diam berarti menyetujui.
(MERAPATKAN MULUT PISTOL KE TELINGA SUMANTRI)
Sebagai seorang tukang obat yang berdarah seni, tentu saja suami nyonya pun suka pula melihat badan yang indah dan sehat, sekalipun badan itu badan istrinya sendiri. Bukan begitu saudara?
(MENEKAN PISTOLNYA)
Ayo jawab. Saudara tidak keberatan bukan?
SUMANTRI : Saya.... saya..... ya, saya tidak keberatan.
HAMID : Bagus! Itu dengan sendirinya saudara kan senang juga melihat keindahan?
SUMANTRI : Ya, ya, saya senang. (MELIRIK KE ARAH RATNA)
Dan.... dan badan istriku paling cantik di dunia.
HAMID : Bagus ! tapi rupanya untuk istri saudara belum cukup jelas, bahwa saudara tidak keberatan. Katakanlah padanya!
SUMANTRI : Ratna, sebetulnya kakak tidak mau, tapi a, a,.. terpaksa, Ratna kuijinkan, agar... agar kita selamat semuanya.
Silakan Ratna, kau buka pakaianmu. Tapi ... a, a, jangan terlalu banyak ratna, sedikit saja.
RATNA : Ha, ha, ha, itulah pendirianmu sebagai seorang suami? Baiklah kalau begitu. Aku pun suka yang indah-indah dan sangat jijik kepada segala kekecutan. Baiklah kalau begitu. Akan kubuka pakaianku.
(PADA HAMID)
Tapi saudara, sudikah saudara memerintahkan supaya kiayi dan rentenir itu membalikkan mukanya?
HAMID : O, ITU TIDAK CUKUP NYONYA.
(BERSERU) Rus! Rus! (RUSMAN BERGEGAS DATANG DARI BELAKANG) Mana pelayan, Rus?
RUSMAN : Saya kunci diadalam kakus bersama-sama yang lainnya.
Berlima orang.
HAMID : (KETAWA) Lima orang dalam satu kakus? Ada-adasaja kamu.
RUSMAN : Kita lepaskan?
HAMID : Biar saja dulu. Tapi tolong ikat mata kiayi dan rentenir ini dengan sapu tangan mereka.
RUSMAN : Tangannya?
HAMID : Tangannya tidak usah. (RUSMAN BERBUAT SESUAI PERINTAH) Terima kasih, Rus. Sekarang kau kembali saja ke belakang. Jaga lagi orang-orang yang kau kunci di kakus itu.
(MEREKA BERBISIK-BISIK DULU, KEMUDIAN RUSMAN PERGI)
(PADA SAMSU)
Sebagai kiayi, saudara tidak boleh melihat badan wanita telanjang yang bukan muhrim.
(PADA MAS ABU)
Dan saudara sebagai seorang rentenir tidak baik pula melihatnya, karena bunga ini bukan bunga yang saudara biasa hitung-hitung tiap hari, tiap bulan.
(PADA RATNA) Silakan Nyonya!
SUMANTRI : Ratna.... a, a,.. sedikit saja. Jangan terlalu banyak bukanya... a, a, asal saja.
RATNA : Peduli apa kamu!
(TANGANNYA SUDAH MEMBUKA PAKAIANNYA, SEHINGGA BENTUK BUAH DADANYA YANG DITUTUPI DENGAN BH-NYA NAMPAK TEGAK DAN BERISI)
Saudara ketarik oleh keindahan badanku ini?
Kalau ketarik, tentu saudara ketarik juga oleh ciumku.
Suamiku tentu akan mengijinkan pula.
HAMID : (PADA SUMANTRI SAMBIL MENEKAN PISTOLNYA) Boleh?
SUMANTRI : Bbbboleh....
(PADA RATNA)
Ratna... a, a, asal saja ciumnya .... a, a, asal menyentuh selewatan saja...
RATNA MEMONCONGKAN MULUTNYA KE ARAH HAMID.
TAPI DENGAN HORMAT HAMID MENGAMBIL TANGAN RATNA LALU DIANGKATNYA KE BIBIR.
RATNA : Hai! Kenapa saudara hanya mencium tanganku saja.
Suamiku ‘kan sudah memberi ijin untuk mencium bibirku.
Ciumlah bibirku. Atau saudara barangkali lebih suka mencium aku kalau aku sudah telanjang bulat. Baiklah kalau begitu...
HAMID : Cukup Nyonya, cukup. Nyonya sudah cukup membikin hatiku bahagia. Pakailah saja lagi pakaian nyonya itu.
(RATNA MEMAMKAI KEMBALI PAKAIANNYA)
Rus! Rus!
(RUSMAN MASUK KEMBALI)
Tolong bukakan kembali tutyup mata mereka itu. Dan coba tolong pegang pistolku ini. Jagalah kawan-kawan kita ini, jangan sampai lari keluar, karena diluar banyak angin. Nanti mereka masuk angin.
(IA MENYERAHKAN PISTOLNYA PADA RUSMAN, KEMUDIAN MENUJU MEJA SEMULA DAN MENULIS SESUATU DIATAS SECARIK KERTAS BON. KERTAS ITU DISIMPAN DIMEJANYA DIBEBANI DENGAN UANG LOGAM. KEMUDIAN KEMBALI MENUJU ORANG-ORANG DAN MENGAMBIL KEMBALI PISTOLNYA)
Nah, saudara-saudara, kami sekarang hendak pergi, karena tugas kami untuk menolong saudara-saudar sudah selesai. Akan tetapi sebelum berangkat, kami ingin memberi suatu kenang-kenangan kepada saudara-saudara sekalian. Dan kenang-kenangan itu saya letakkan diatas meja itu.
(MENUNJUKKAN DENGAN UJUNG PISTOL)
(PADA RATNA)
Harap nanti, apabila kami sudah pergi dari sini nyonya sendiri yang mengambilnya untuk kemudian diperlihatkan kepada kawan-kawan yang lain.
(KEPADA RUSMAN)
Rus! Bebaskan dulu orang-orang itu dari kakus dan katakanlah kepada mereka bahwa uang untuk minuman kita ada diatas meja.
(RUSMAN BERGEGAS KE BELAKANG, TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL KEMBALI. HAMID MENODONGKAN PISTOLNYA KEPADA ORANG-ORANG SAMBIL BERGERAK MUNDUR MENUJU PINTU)
Mari kita pergi!.
SEPERGI KEDUA ORANG ITU, MEREKA SEREMPAK MENARIK NAFAS PANJANG, SEDANGKAN RATNA BERGEGAS MENGAMBIL KERTAS DARI MEJA HAMID.
RATNA : (MEMBACANYA. KERAS)
Saudara-saudara, dengan hati yang puas saya telah berhasil membuka kedok yang selama ini menutupi pribadi saudara masing-masing.
Sekarang silakan saudara-saudara melihat dimuka kaca cermin. Cermin takkan memberi bayangan yang palsu lagi kepada saudara-saudara.
Jelas akankelihatan, bahwa yang satu adalah seorang pandir, yang kedua seorang tolol, yang ketiga seorang pengecut dan yang keempat seorang wanita yang gagah berani.
Sedangkan saya sendiri adalah seorang badut yang suka membuka kedok orang-orang dengan sebuah pistol yang kosong.
KETIGA LELAKI : Pistol kosong?
Pistol kosong? Kurang ajar! Sungguh berani dia untuk menghina kita dengan sebuah pistol kosong. Betul-betul setan luar biasa dia. Kalau aku tahu bahwa pistolnya kosong...
MEREKA MENGUTUK-NGUTUK, MENGEPAL-NGEPAL TINJUNYA. RIUH. SAMSU LARI KE PINTU, MELIHAT KELUAR DIIKUTI OLEH SUMANTRI DAN MAS ABU. KEMUDIAN MEREKA MASUK LAGI. MENGUTUK-NGUTUK LAGI. MENGEPAL-NGEPAL TINJUNYA LAGI.
SEMENTARA TENANG-TENANG SAJA. MEMANDANGI MEREKA SAMBIL GELENG-GELENG KEPALA.
RATNA : (LANTANG DENGAN SENYUM MENGEJEK)
Silakan tuan-tuan, kejarlah orang-orang itu.
Pintu sudah terbuka luas untuk tuan-tuan.
Dan lampu-lampu di jalan cukup terang.
Ingin kulihat kekecutan dan kepalsuan mengejar kejujuran.
PADA SAAT ITU PULA PELAYAN DAN YANG LAINNYA DARI RESTORAN ITU MASUK DENGAN MUKA YANG GUGUP.



SELESAI

pagi sunyi

pagi ini terkesan membisu pada kita
kita yang digeluti kehidupan dan kemuakan di dalamnya

Kumpulan Naskah Monolog Kates

BLACK JACK
Monolog Benny Yohanes

DI ATAS PANGGUNG, DUA MEJA BESAR HITAM DISUSUN BERBENTUK ”T”. MEJA YANG MELINTANG LEBIH TINGGI DARI MEJA YANG MEMBUJUR. DI ATAS MEJA YANG MELINTANG TAMPAK BERBAGAI SATWA BUAS YANG DIAWETKAN. MEJA YANG MEMBUJUR TERTUTUP KAIN PUTIH TRANSPARAN.

DIBELAKANG MEJA YANG MELINTANG, DENGAN KETINGGIAN MELEBIHI MEJA DI DEPANNYA, SEBUAH BINGKAI BESI SETINGGI PINTU TERPANCANG. DI DALAM BINGKAI ITU BLACK JACK HAMPIR MENGHABISKAN MAKAN SIANGNYA. BLACK JACK MENJILATI PINGGIRAN PIRING ALUMINIUM DENGAN LIDAH PANJANGNYA. BLACK JACK MENGENAKAN GAUN PANJANG BERLENGAN PANJANG, BERWARNA ABU-ABU KELAM. BIBIR DAN LIDAHNYA TAMPAK SANGAT MERAH. SANGGUL BESAR YANG HITAM DAN ELOK MENGHIASI BELAKANGNYA.

DARI LUAR RUANGAN TERDENGAR SUARA SIRINE MOBIL PASUKAN ANTI HURU-HARA. TERDENGAR SUARA GADUH DEMONSTRAN DARI LUAR. DITEPIS SUARA ANJING MENYALAK. SUARA DEMONSTRAN DARI BALIK SPEAKER GENGGAM BALIK MENIMPAL.


SUARA DEMONSTRAN BERSAHUTAN: ’Kami tolak pengosongan makam!’ Walikota picik. Tak punya hormat. Picik! Makam tak bisa dibongkar!!’ ngerti kau Walikota?!’ ’Makam bukan tanah terlantar. Itu tempat ayah kami. Ibu kami. Sodara-sodara kami. Mereka punya hak tetap di sana!’ ’Kami tolak penggusuran makam’ ’ Kalian PKI. Walikota PKI!’ ’PKI! PKI! PKI! PKI!......’

TERDENGAR SERIAL LETUSAN SENJATA KE UDARA. SUARA TUBUH-TUBUH TIARAP DAN TERSUNGKUR. BLACK JACK MENYALAKAN LAMPU SOROT MENGARAHKAN KE MEJA. ASAP CERUTU DISEMBURKAN KE ATAS MEJA.

BLACK JACK:
Pengosongan makam akan jalan terus. Terus ! katanya rakyat menolak. Siapa bilang? Ada yang bayarin orang-orang itu. Aku tidak akan bilang siapa. Belum saatnya. Nanti mereka popular dong.
(BLACK JACK MEMENCET TOMBOL TELEPON SAMBIL MEMBERSIHKAN SILILIT DI GIGINYA. BICARA DENGAN ORANG DISEBERANG TELEPON)
Pak Nyoto. Nanti sore tolong antar saya ke dokter hewan Taufik Ismail. Kata dokter Taufik, ada gejala caries.
(TELEPON DITUTUP. BLACK JACK BICARA SENDIRI SAMBIL MENGGOSOK GIGINYA DENGAN UJUNG SAPU TANGAN )
Caries atau Rabies ? dokter Taufik itu diagnosanya suka mencla-mencle. Begitu itu, kalo dokter hewan terlalu rajin nulis sajak.


(BLACK JACK MENGAMBIL SENJATA PEMBURU LARAS PANJANG. MEMBIDIK SASARAN KE ARAH PENONTON. PELATUK DITARIK. TERDENGAR LETUSAN BESAR KE ARAH PENONTON. SUARA ANEKA SATWA YANG SEKARAT TERDENGAR. BLACK JACK TERSENYUM BANGGA)
Aku ini seneng plihara hewan. Bukan Cuma sekedar seneng ya. Aku ini ngrasa senasib ama kewan-kewan itu. Setiap kali aku ngelus piaraanku, rasanya kok seperti mbaca buku sejarah.
Karena aku suka sejarah, semua tanah kuburan terlantar di kota ini akan dikosongkan! Dewan sudah setuju karena alasannya masuk akal. Pembebasan makam memang bertahap. Paling dulu makam yang di tengah kota. Wartawan-wartawan yang ceriwis suka nyinyir bertanya: setelah kosong rencananya di bangun apartemen?! Hemmh, wartawan sekarang kepalanya curigaan terus. Siapa yang ngasih pelajaran budi-pekerti sama mereka sih?
(BLACK JACK MEMBUKA SELUBUNG MEJA YANG MEMBUJUR. TERLIHAT MINIATUR KOMPLEK BANGUNAN MEGAH BERSEGI LIMA)
Ini yang saya mau bangun. Wartawan ngerumpi lagi:‘ Wah, Walikota mau bangun sekolah intelejen di tengah kota.‘ Bukan! Bukan sekolah intelejen. Tapi memang ada hubungannya. Di bekas makam ini akan saya bangun asrama, galeri, ruang lab, kantor kearsipan, dan taman bermain.
Untuk siapa? Ini akan jadi Univeritas penelitian setiap jenis hewan liar di dunia. Paling besar dan lengkap di Asia. Woow! Mulut wartawan pada melongo. Saya tahu mereka sinis. Jangan curiga dulu, Pak Rosihan. Ini proyek non komersial.


(LAYAR VISUALISASI MENYALA. SELURUH DETIL KOMPLEK BANGUNAN TERLIHAT. BLACK JACK MENERANGKAN DENGAN UJUNG LARAS SENAPANNYA)
Bangunan pertama ini asrama. Setiap hewan liar yang sudah masuk asrama, akan dicukur, disuntik anti-virus, divaksinasi, diransum makanan yang sesuai dengan habitat awalnya. Detak jantungnya akan dianalisis setiap akhir pecan. Pakar perilaku hewan dari IPB akan meruntut garis silsilah mereka, sampai Sembilan generasi ke belakang.
(PADA LAYAR VISUALISASI NAMPAK SEDERET FOTO PEJABAT PUBLIK YANG TERKENAL)
Team sukses saya, ketuanya Sdr. Akbar Witjaksana Ph.D, sekarang ini lagi nyusun seri ensiklopedi satwa, lebih rinci, ilmioah dan bergambar. Alokasi dananya 40 miliar, diambil dari anggaran taktis APBD. Wartawan ribut-ribut soal dana ini. Saya tegaskan ya, ini biaya untuk bikin ensiklopedi. Ini proyek intelektual. Ndak ada yang murah untuk kerja ilmiah. Tak bisa diirit-irit seperti gaya hidup mahasiswa. Apa kita ndak malu sebagai bangsa, kalo team Sdr. Akbar Cuma makan di warteg setiap harinya, padahal bikin temuan-temuan ilmiah yang menguras otak?

DARI LUAR RUANGAN TERDENGAR PIDATO MAHASISWA YANG BERAPI-API. LALU TERDENGAR DERU PANSER, DISUSUL KEPANIKAN DAN LOLONGAN. BLACK JACK MENUJU KE SUDUT RUANGAN YANG BERTIANG. DIA KENCING, DENGAN CARA MENUNGGING SAMBIL MENGANGKAT SEBUAH KAKINYA MENEMPEL KE TIANG. SEMBARI KENCING, BLACK JACK MENGAKTIFKAN TELEPON GENGGAMNYA.
Sobron, kamu masih di lapangan? Ya, begitu. Tidak ada pembicaraan lagi. Pukul! Bungkam! Minta bantuan Brimob. Nyoto sudah transfer dana ke rekeningnya. Kontak Hercules juga. Suruh anak buahnya menyusup. Sobron, saya tunggu darah Cobra itu. Bagus memang untuk Prostate. Heeh, kencing saya makin lancer. Kirim ke kantor, jangan ke rumah dinas. Dua mahasiswa mati? Lumrah. Kamu cepat menyingkir dari lapangan. Wartawan?! Tolak wawancara. Biar si Hercules yang tangani. Sobron, Viagra yang kemaren palsu. Ndak ada efeknya. Siapa yang ngedrop? Anjing..!! Si Fery itu memang maling. Suru Kapolsek tangkap dia. Ndak ada amplop lagi. Kapolsek masih ngutang sama kita.

SUARA KENCING MENGERAS SEPERTI SEMPROTAN BRANWEER. SEJUMLAH CIPRATAN AIR JATUH KE TEMPAT PENONTON. PENONTON MUNGKIN NGEDUMEL, ATAU PINDAH TEMPAT. BAU AMONIAK MENYENGAT.

(LAYAR VISUALISASI KINI MEMPERLIHATKAN BANGUNAN SILINDER, TANPA JENDELA, DENGAN UJUNG MENUMPUL DAN SATU PINTU UTAMA YANG LANCIP DAN SEMPIT)
Ini bangunan yang menarik. Gagasannya disumbangkan dari kantor Depnakertrans, Pakar arsitektur bersungut, katanya bangunan ini bikin geli dan buruk sirkulasinya. Wartawan Koran kuning bahkan lebih sinis. Katanya ini semacam reinkarnasi Penis.




Tepat, sodara Moamar Emka. Di sini memang bakal jadi ruang Lab, untuk analisis semua jeroan. Di sini kelamin setiap hewan akan diklasifikasi berdasarkan bibit, bobot, dan motif evolusinya. Diteliti cara kerja dan variasidaya penetrasinya. Lalu data iniakan di cross check menurut garis keturunan hewan-hewan itu. Jangan keliru sodara Moamar Emka, istilah cross check bukan monopoli dunia selebriti.
(TELEPON BERDERING. BLACK JACK MENEKAN TOMBOL SP-PHONE)
Ya, nyoto kenapa? Benar begitu? Shiit! Mobilisir satpol PP. Kontak Kapolda dan Pangdam. Kepung, lalu usir. Cabut dan bakar semua patok-patoknya. LSM gaya apa, begitu? Mosok rakyat dipengaruhi untuk membangun tenda di atas kuburan. Perjuangan semprul. Kuburan itu sudah dibebaskan. Titik! Tidak ada ganti rugi, Nyoto, Ahli waris apa? Kok tega-teganya. Mosok tulang-tulang mau dijadikan obyek transaksi. LSM keblinger. Segera Nyoto. Laksanakan! (MENUTUP TELEPON)
Edhan! Kenapa mereka terus saja ngrusui rencana-rencana Walikota. Memangnya kuburan itu milik siapa? Logikanya apa kok kuburan minta ganti rugi. Apa kuburan itu, tulang-tulang itu, barang dagangan? Walikota mau membangun Universitas hewan di atas tanah tidak produktif itu. Ini kerjaan ilmiah. Menampung banyak tenaga kerja. Merekrut banyak ahli-ahli spesialis. Bisa ngasih makan ribuan mulut yang masih hidup. Kok dibilang kejem?
Berpikir maju, dong. Tanah itu hajat orang yang masih hidup. Yang masih perlu ikhtiar. Yang mati sudah punya tempat leluasa di alam baka. Yang mati jangan dipolitisir, jangan diojok-ojok supaya punya nafsu duniawi lagi. Itu rakus dan koruptif.
Kalo pendemo-pendemo itu mau sabar, nanti mereka khan bisa melamar jadi satpam atau cleaning service di Universitas hewan. Mereka akan dapat gaji yang sah. Rencana simpatik begini kok dituduh PKI.
(LAYAR VISUALISASI KINI MENAMPILKAN GAMBAR-GAMBAR PERKEMBANGAN ALAT-ALAT GENITAL HEWAN, LENGKAP DENGAN PERIODISASINYA)
Tim ahli pimpinan Sdr. Akbar Witjaksana sudah mengabarkan temuan yang menarik. Berdasarkan fakta-fakta erkeologi yang dikaji ulang dari sejumlah hewan maka alat-alat genitalnya makin membonsai.
Tapi pengkerdilan kelamin ini berbanding lurus dengan perlonjakan nafsu membunuhnya. Makin mini ukurannya, makin ganas dan rakuslah kelakuan kewan-kewan itu. Studi cross check jadi sangat penting disini.
Waktu temuan ini dipublikasikan, masih saja ada wartawan yang mudheng lalu dengan sembrono bertanya: Manfaat ilmiahnya apa cross check kelamin begituan? Begini, ya Mas Jiwo Tejo, anda ini khan wartawan yang ngerti tradisi tho?
Ramalan perkembangan kelamin kewan yang di cross check sampai tahap-tahap evolusi mutakhirnya, membikin kita bisa mbaca tradisi membunuh hewan-hewan dari masa ke masa. Analisis cross check juga penting untuk mendeteksi berbagai kelemahan genetic, penyakit bawaan dan gejala penyimpangan orientasi seksual, yang terwariskan dari setiap periode keturunan kewan-kewan itu. Dengan begitu, setiap aspek manipulasi dan inkonsistensi yang disembunyikan oleh sifat-sifat kehewanan akan terbongkar dengan sendirinya. Paham mas Jiwo Tejo?!



(TELEPON BERDERING. BLACK JACK TIDAK MENANGGAPI. SUARA DERING TERDENGAR DARI BERBAGAI SUDUT, BAHKAN DARI ARAH PENONTON. BLACK JACK MENGARAHKAN SENAPAN, LALU MENEMBAK KE LANGIT PANGGUNG. GAGANG-GAGANG TELEPON BERJATUHAN DARI LANGIT PANGGUNG. SUARA-SUARA TERDENGAR DARI GAGANG YANG BERJUNTAL. BLACK JACK MELETUSKAN LAGI SENAPANNYA. SUARA-SUARA REDA.)
Banyak yang curiga, kenapa seorang walikota antusias banget pelajari rahasia kelakuan binatang. Di Koran, saya baca tulisan Mochtar bin Lubis. Dia bilang, masa lalu walikota kurang sedap. Pikirannya dipengaruhi trauma masa kecil. Kabarnya, walikota dibesarkan ibu tiri. Didik bareng hewan piaraan. Shit!!!

BLACK JACK MEMUKUL SOSOK ANJING YANG DIAWETKAN DENGAN GAGANG SENAPANNYA. KEPALA ANJING JATUH KE LANTAI. BLACK JACK MENANGGALKAN GAUN HITAMNYA. TERLENTANG DI LANTAI HANYA MENGENAKAN UNDERWEAR.) MUSIC BOX BERBUNYI. (SEIRING DENGAN DENTINGAN MUSIK, DARI LANGIT PANGGUNG PERLAHAN TURUN FIGUR-FIGUR PIPIH: SOSOK IBU, ANJING-ANJING HERDER, PIRING ALUMINIUM, BOCAH LELAKI YANG MEMAKAI ROK, TANAMAN-TANAMAN BONSAI DAN CERET YANG MENGEPULKAN ASAP. SELURUH BENDA-BENDA PIPIH ITU MEMBENTUK KONFIGURASI YANG MENGEPUNG BLACK JACK.


(BLACK JACK MERAPAT DI BELAKANG SOSOK IBU)
Aku punya masa lalu yang menyenangkan. Memang. Aku dibesarkan ibu tiri. Wartawan tahu itu semua. Tak ada masalah hidup dengan ibu Fatmawati. Dia wanita gesit, penuh disiplin. Ibu Fatma itu, penyayang binatang yang lembut dan telaten. Kelebihannya yang lain, ibu penggemar fanatic pohon bonsai.
(HERDER MENYALAK. BLACK JACK MENGELUSI MONCONG ANJING-ANJING PIPIH ITU.)
Di rumah kami, ibu memang pelihara empat herder. Masing-masing herder garis keturunannya beda. Tapi mereka tetap di satu kandangkan.
(BLACK JACK BERLUTUT DI DEPAN SOSOK BOCAH LELAKI YANG MEMAKAI ROK)
Sejak kecil, aku diwajibkan hidup membaur. Tidak pernah menolak apa yang harus kupakai. Ibu Fatma bilang begini:‘Jack, semua yang berbeda, harus diperlakukansama.‘ Ibu sangat teguh pertahankan prinsip itu.
(BLACK JACK MENYANGGA PIRING DENGAN KEPALANYA)
Setiap hari ibu Fatma slalu masak. Tidak pernah beli di warung, atau pesan catering. Ibu masak tak pernah pakai bumbu. Tangannya dicelupkan ke sayuran yang berair. Lalu masakanpun rampung.
Makanan saya dengan makanan herder-herder itu tak pernah dibedakan. Menu dan porsinya selalu sama. Sesekali, kukira ibu keliru membagikan piring. Piring saya diberikan pada herder, sehingga saya makan pakai piring hewan piaraan ibu. Saya sendiri tak bisa teliti betul membedakannya, karena semua piring di rumah kelihatannya serupa.



(BLACK JACK MENJILATI PIRING DENGAN LIDAHNYA)
Makanan di piring harus selalu habis, tak boleh ada sisa. Ibu Fatma menunjuk pada herdernya:’Lihat hewan-hewan itu. Piringnya bersih. Lidahnya bisa mencuci, Jack. Mereka adalah mahkliuk yang bisa berterima kasih pada Yang Kuasa. Tiru itu.‘
Di rumah, kami selalu kekurangan air. Akupun belajar mencuci piring dengan lidahku, meniru herder-herder itu. Selai lagi, ibu Fatma ngasih aku nasehat:‘Ega, dunia ini milik semua mahkluk. Kamu tak boleh membeda-bedakan mahkluk. Setiap mahkluk dapat kesempatan dipuji, dihukum juga. Kamu tak bisa minta pujian ibu, sebelum kamu bisa lebih baik dari piaraan ibu. Kamu dengar Ega?! Kamu paham itu, Jack?!!!‘
(BLACK JACK MELEPAS SANGGULNYA, LALU DIPAKAI SEBAGAI BANTAL. BLACK JACK MERINGKUK DI ANTARA TANAMAN-TANAMAN BONSAI. SIARAN BERITA TENTANG PASUKAN BAMBU RUNCING YANG BERHASIL MENYERGAP TANGSI BELANDA TERDENGAR DARI SEBUAH RADIO TUA)
Suatu hari, waktu Belanda mendarat lagi di Surabaya, ibu pergi ke pasar. Herder-herder kami dilepas di pekarangan belakang. Di pekarangan belakang itu, belasan bonsai kesayangan ibu dipelihara.
Sampai tengah hari, ibu belum pulang. Biasanya kami sudah selesai makan siang pada jam itu. Herder-herder juga biasanya sudah kenyang diransum. Tapi sampai pukul dua, ibu belum muncul juga. Saya dengar di radio, pasukan Belanda bikin rusuh lagi di kota. Agresi kedua. Semua herder melai menggeram-geram. Gelisah, mendengus. Mondar-mandir, lidah menjulur, ekornya dikibas-kibas.



(BLACK JACK BERLAKU SEPERTI HERDER)
Menjelang senja, hewan-hewan lapar itu mulai mengendus-endus pohon bonsai ibu dengan sungutnya. Kakinya menggaruk-garuk tanah penyangga taneman. Lalu si Herder mulai mengunyah daun-daunnya, rantingnya. Saya coba menggebah. Tapi si Bima, herder jantan paling bongsor, menerkam perut saya. Mencakar paha, mengoyak dengkul saya, lalu menyalak dengan keras. Herder lain ikut memburu. Saya lari menuju pintu belakang.
(BLACK JACK MENGGIGIT SANGGULNYA, MERANGKAK MENUJU KAKI MEJA. MATANYA BASAH. TELEPON GENGGAMNYA MENYALA)
Ya, Sobron. Ibu-ibu menangis di kuburan. Sudah disiram? Tetap bertahan. Ya, sudah kuduga. Tidak, aku tidak nangis, Sobron. Mana bisa?
Sobron, beli nasi bungkus secukupnya. Kasih makan orang-orang itu. Mereka akan jadi hewan kalau terlalu lapar.
(BLACK JACK TERDUDUK DI BINGKAI PINTU)
Aku nangis. Nahan laper. Perih di perut bekas cakar si Bima.dengkulku terus berdarah. Di radio, aku denger suara Kris Biantoro nyanyi lagu Dhondong apa Salak. Kemana ibu? Katanya Cuma ke pasar.
Anjing-anjing tambah ganas menggunduli daun dan makan abis pohon bonsai ibu. Sesudah merusak, keempatnya bergolek tertib di depan kandang. Rumah gelap tanpa penerangan.




(BLACK JACK MENDEKATI POHON BONSAI. MENCOBA MENGGIT GIGIT DAUNNYA. POHON YANG DIGIGIT ITU DI CABUTNYA, LALU DISUSUPKANNYA KE BALIK UNDERWEARNYA)
Mulanya aku takut kegelapan. Tapi tidak lagi, setelah kutiru kelakuan herder-herder itu. Aku merasa tubuhku jadi serba tajam. Ada pisau tumbuh di dalam kepalaku.
(BLACK JACK MENDEKATI SOSOK BOCAH LELAKI YANG MENGENAKAN ROK. ROK ITU DILEPAS. DARI SELANGKANGAN BOCAH ITU MENYEMBUL PISAU BERKILAT. BLACK JACK MERENGGUT PISAU ITU, LALU MEMOTONG KEPALA BOCAH. BLACK JACK TERTAWA)
Hak… hak… hak… kini aku besar. Black Jack sudah besar, bu! Dia tidak takut gelap, bu! Mana gelap? Kusabung kamu!!
(BLACK JACK BERGULINGAN, MELOLONG BEBAS, DAN DENGAN GEMBIRA MENEBAS SEMUA SOSOK DI DEPANNYA DENGAN PISAU TERHUNUS. TAK LAMA DIA RUBUH DI DEPAN MEJA YANG MEMBUJUR. TUBUHNYA MENIMPA MINIATUR UNIVERSITAS HEWAN. MINIATUR HANCUR)
Ini tidak lama. Daun tak bikin kenyang. Perutku lapar. Aku nangis lagi.
(BLACK JACK MEMENCET TOMBOL SP-PHONE)
Nyoto, si Bima sudah di ransum? Kasih dobel. Ya! Dobel!
Dan Nyoto, aku akan makam malam di sini.
(BLACK JACK MENGENAKAN KAIN PENUTUP MEJA SEBAGAI MANTEL)


Ibu Fatma baru datang menjelang subuh, esok harinya. Di tangan ibu, ada selembar bendera yang dijahit tangan. Wajah ibu lusuh dan kusut. Herder-herder menyalak. Ibu merangkuli mereka semua. Si Bima menciumi ibu.
Kasih ibu sepanjang zaman. Diantara kesal, aku gembira. Ibu akan merangkulku juga. Saya masih nangis di kaki meja makan. Rasanya ibu belum denger tangisku. Suara adzan subuh dari mesjid di ujung jalan. Tapi, tiba-tiba.... ibu melolong panjang dari pekarangan belakang. Lalu saya mendengar pintu dapur dibanting dengan hebat. Ibu merebus air. Saya memperkeras tangisan, berharap perhatian. Adzan selesai. Lampu rumah tidak dinyalakan. Sepi sekali di rumah. Matahari sembunyi.
(BLACK JACK MENEMPELKAN DADANYA PADA CERET YANG MENGEPULKAN ASAP)
Akhirnya, ibu Fatmawati menghampiri saya. Menenteng air yang sudah di jerang. Asapnya bergumpalan. Sepatah kata saja keluar dari mulut ibu:
MANDI!!!!!
(GEMA SUARA: MANDI!... MANDI!... MANDI!... MANDI!!!... TERDENGAR PEKAK DI SEANTERO RUANGAN. TUBUH BLACK JACK GEMETAR, LALU DIA MELOLONG HEBAT, DI TIMPALI SUARA GONGGONGAN ANEKA ANJING YANG MEMBURU)
Aaaaaaaakkkkhhhhh..........!!!!!!!!!
(BLACK JACK MELEPAS UNDERWEARNYA, LALU MEMPERLIHATKAN PUNGGUNGNYA, TAMPAK BEKAS LUKA BAKAR YANG BERAT, BLACK JACK MENGUCAP LIRIH)
Air itu... benar-benar mendidih.!!

(PADA LAYAR VISUALISASI TAMPAK CLOSE-UP DAGING PUNGGUNG YANG TERBAKAR. KULIT JANGAT TERKELUPAS, DAGING MENTAH YANG MEMUTIH. ASAP MENGEPUL DARI PERMUKAANNYA. BLACK JACK MENGENAKAN KEMBALI GAUN PANJANGNYA)
Umur Black Jack baru sembilan tahun, waktu ibu Fatmawati mengguliti punggungnya. Sejak itulah, dari siang ke malam, dari malam ke pagi, dari pagi ke hari, dari hari ke tahun, Black Jack tidak bisa berhenti, menggambar muka-muka anjing. Membaca kisah-kisah anjing. Bermimpi membelah kepala-kepala anjing di kamar mandi. Umur tiga belas tahun, untuk pertama kalinya Black Jack bermain asmara dengan seekor anjing. Umur delapan belas tahun, Black Jack sudah terbiasa makan jeroan anjing.
(DENTANG JAM BANDUL TERDENGAR BERAT. DARI BALIK BINGKAI PINTU MUNCUL NYOTO, BERSERAGAM PUTIH, KOPIAH HITAM, KACAMATA HITAM. NYOTO MEMBAWA NAMPAN PERAK BESAR. DI ATAS NAMPAN TERHIDANG JEROAN SEGAR, JEROAN MENTAH BERDARAH)
NYOTO:
Makan malam siap, walikota.
BLACK JACK:
Si Bima?

NYOTO MENGANGGUK KHIDMAT. MENARUH NAMPAN DI MEJA, LALU MENGHILANG MENUJU GELAP.
BLACK JACK MENYANTAP MAKAN MALAMNYA DENGAN TANGAN TELANJANG. BIBIR DAN LIDAHNYA MAKIN MERAH.
(DARI LUAR RUANGAN TERDENGAR KEMBALI SUARA PARA PENDEMO):
”Makam tak bisa dibongkar! Dengar kau Walikota? Dengar! Makam ini ayah kami. Ibu kami. Makam bukan tanah terlantar. Makam itu tempat keramat. Kamu Walikota korup. Mau membongkar makam demi uang. Pikiran najis! Walikota tak bermoral! Korup! Walikota antek PKI‘
(BLACK JACK TERUS MENYANTAP MAKAN MALAMNYA)
Aku sudah membongkar makamku. Menggali kuburan masa laluku. Aku tidak korup sama riwayatku. Itu sebabnya aku terpilih sebagai Walikota. Darimana datangnya korupsi? Mungkin dari punggung pemimpin yang tak kunjung sembuh. Hmm… aku tidak tahu. Aku tidak ngerti tudingan orang-orang itu, yang kulakukan Cuma belajar lebih menyayangi hewan-hewan. Jeroan ini sehat.
(SEUNTAI BLUES MENGALUN, BERSAMA GELAP YANG MENYERGAP.)
Selesai
31 Mei 2004

PerJalanan K@teSmanSa


JEJAK LANGKAH K@TeS 2000-2008

Ditengah-tengah aktivitas siswa di SMA Negeri 1 Sumenep dalam mengejar prestasi akademik, lahir juga kegiatan siswa yang bergerak dalam pengembangan potensi bakat dan midat dalam bidang seni. Delapan tahun yang lalu tepatnya tahun 2000, lahirlah bayi mungil dari bunda Smansa yang pada usianya diberi nama Komunitas Teater Smansa (K@TeS). Ia mewarnai hiruk pikuk kegiatan siswa di SMA Negeri 1 Sumenep dengan teriakan-teriakan vokal, geliat tubuhnya dan pengembangan kecerdasan otaknya hingga mampu berjalan tertatih-tatih dengan beban dipundaknya.

Menelusuri kehidupan K@TeS yang sudah 8 tahun mewarnai dunia teater di Sumenep dan sekitarnya, sudah bayak menemukan pengalaman hidup dan penghargaan yang dapat diraihya. Pada usianya yang satu tahun, K@TeS sudah mengukit prestasi sebagai penampil terbaik festival teater pelajar se kabupaten Sumenep dan Festival Pelajar yang diselenggarakan oleh UNIRA dengan menggarap karya “Topeng-topeng”. Dengan keberhasilan K@TeS maka mewakili kabupaten sumenep pada ivent Pekan Seni Pelajar SMA Se Jawa Timur dan meraih gelar Penyaji Unggulan terbaik.

“Rintrik” merupakan produksi ke -2 yang dipentaskan oleh K@TeS pada Festival Teater yang diselenggarakan oleh UNIRA (Unieversitas Madura ) dengan meraih Penyaji Terbaik tingkat Pelajar dan sempat pentas bersama di Aula STAIN Pamekasan.

Tahun ketiga K@TeS memproduksi karya teater dengan naskah “Nyonya Hakim” dan sempat mengikuti Festival Teater Pelajar se Kabupaten Sumenep dan mewakili Sumenep dalam rangka Pekan Seni Pelajar Se Jawa Timur bertempat di Madiun dan meraih penghargaan sebagai Penyaji Unggulan Terbaik.

Pada Tahun keempat K@TeS mendapat kepercayaan dari Dinas Pendidikan kabupaten Sumnep mengikuti acara Festival Fragmen Budi Pekeri pelajar se Jawa Timur bertempat dio Ponorogo, berhasil meraih penghargaan sebagai penulis naskah terbaik dan penyaji unggulan terbaik dengan garapan “Tuti Keracunan Wajah”.

K@TeS mendapat undangan khusus dari Kanwil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur untuk mengikuti acara Festival Fragmen Budi Pekerti pelajar se Jawa Timur bertempat di Batu – Malang dengan dana sendiri yang terkumpul dari swadaya anggota, dengan semangat yang luar biasa dan membawa karya “Tetuko” meraih gelar sebagai Penyaji Unggulan Terbaik.

Karya Pantomime dengan judul “Laptop” juga menjadi garapan dari K@TeS dan sempat pentas di Aula MAN Sumenep dan mengisi acara EKSPRESI di Stasiun TV Lokal Madura Chanel.

Pada Festival Fragmen Budi Pekerti pelajar se Jawa Timur tahun 2008 yang bertempat di Singosari – Malang kita mendapat kepercayaan lagi untuk mewakili kabupaten Sumenep, dan K@TeS meraih penghargaan sebagai Penulis Naskah Terbaik, Penyaji Unggulan Terbaik. Disamping itu Kampung Kardus diminta untuk mengisi acara EKSPRESI di Stasiun TV Lokal Madura Chanel.

Disamping kegiatan K@TeS selalu mengikuti ivent-ivent festival tingkat Jawa Timur juga mengadakan pementasan di AULA SMA Negeri 1 Sumenep dengan bentuk garapan eksperimental art. Pada acara mengenang kembali Bencana Tsunami Aceh K@TeS mengadakan acara Permorfing Art dan Baca Puisi. K@TeS juga mengadakan jalinan komunikasi dan pentas bersama dengan komunitas teater SMA Negeri 3 Pamekasan, Komunitas Fragmen Budi Pekerti kabupaten Sampang dan Bangkalan. Telah banyak yang sudah diberikan K@TeS untuk memberikan goresan-goresan estetika berteater di Sumenep dan Jawa Timur.

Pada tahun ke-8 ini K@TeS mempersiapkan produksi dengan mengambil naskah DHEMIT dengan penulis Heru Kesawa Murti (Gandrik). Persiapan dan latihan sudah dimulai dan semoga persiapan yang rencananya dengan durasi 90 menit menjadi tontonan yang akan bisa diapresiasi bersama. Viva K@TeS dan hiduplah dengan kreativitas untuk melahirkan KARYA. (The Show Must Go On) by. Agus Suharjoko.

komunitas teater SMA N 1 Sumenep

K@TES

1. Berdirinya K@TES

K@TES adalah singkatan dari “Komunitas Teater Smansa”. Yang berdiri pada 26 September 2000, di SMA Negeri 1 Sumenep. K@TES didirikan oleh bapak AGUS SUHARJOKO, S.Sn. sebagai guru Seni Budaya SMA Negeri 1 Sumenep dan sekaligus merangkap sebagai Pembina K@TES.

2. Pembina K@TES

Bapak AGUS SUHARJOKO, S.Sn. adalah guru Seni Budaya dan Pembina K@TES, beliau lulusan S-1 dramaturgi ISI Yogyakarta. Bapak Agus Suharjoko aktiv dalam pengembangan teater di Kab. Sumenep, terlibat pada pementasanuntuk event daerah dan nasional sebagai sutradara pementasan teater, penataan artistik. Sebagai pemuda pelopor juara 1 tingkat Jawa Timur tahun 2003, penata artistik Tim Kesenian Jawa Timur Festifal Karya Tari Indonesia tahun 2005, dan bapak Agus Suharjoko telah menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Timur pada tahun 2008 sebagai guru “teladan” dalam bidang seni, dan telah membawa K@TES sampai ketingkat Provinsi, Nasional bahkan sampai ke Internasional.

3. Produksi K@TES

* Topeng kayu, tahun 2002

* Topeng-topeng, tahun 2003

* Rintrik, tahun 2004

* Nyonya hakim, tahun 2005

* Tuti Keracunan Wajah, tahun 2006

* Tetuko, tahun 2007

* Pantomime Laptop, tahun 2008

* Kampung Kardus, tahun 2008

* DHEMIT, masih dalam proses latihan

4. Prestasi K@TES

* ALALABANG, penyaji unggulan Festifal Seni Tradisi Tingkat ASIA tahun 2006

* RONJENGAN PATEH, Penyaji unggulan Festifal Tari Gebyar Wisata Nusantara tahun 2007 di Jakarta

* SAN MISAN, 5 penyaji non Festifal Seni Pertunjukan se-Jawa Timur tahun 2007

* TUTI KERAUNAN WAJAH, Penyaji unggulan Pekan Seni Pelajar se-Jawa Timur bidang Teater tahun 2007

* TETUKO, 5 Penyaji unggulan Festifal Fragmen Budi Pekerti se-Jawa Timur tahun 2007

* KAMPUNG KARDUS, Penyaji ungggulan dan Penulis Naskah Terbaik pada Festifal Fragmen Budi Pekerti se-Jawa Timur tahun 2008

* AROKAT MEMPE, 5 Penyaji Unggulan , Sutradara Terpilih unggulan oleh bapak AGUS SUHARJOKO,S.Sn. dan Penata Artistik Terbaik oleh SYAIFUL AMRI. Pada Festifal Seni Pertunjukan se-Jawa Timur tahun 2008

* ROKAT PANDHABA, 10 Penyaji Unggulan pada Festifal Upacara Adat se-Jawa Timur tahun 2008.

* Juara 5, lomba sepeda hias beregu. Kab.Sumenep

Postingan Lebih Baru Beranda

Blogger Template by Blogcrowds